PENGANTAR KORAN - CERPEN 1 (2016)

Catatan: Cerita pendek ini merupakan tugas praktek mata pelajaran Bahasa Indonesia. Cerpen-cerpen yang telah dipilih akan diseleksi kemudian dikumpulkan untuk selanjutnya dimuat dalam buku "Kumpulan Cerpen SMAN 3 Kota Tangerang Selatan". Buku tersebut dicetak dan berisi cerpen-cerpen terpilih dari siswa angkatan 2017 SMAN 3 Kota Tangerang Selatan

Pengantar Koran

Wajah Ibu kian memucat. Darah merembes keluar dari pori bibir ibu. Sesekali hidungnya mengeluarkan darah. Aku tidak tahu ibu sakit apa, namun belakangan ini Ibu mengeluh badannya terasa nyeri. Sawah Pak Bambang pun tidak digarapnya. Ya. Ibuku seorang buruh tani yang dipekerjakan oleh tuan tanah di desa ini. Ayahku pergi entah kemana, yang aku tahu Ayah menikah lagi dengan seorang gadis dari Jakarta.

Kian hari kondisi Ibu makin memburuk. Panasnya sangat tinggi dan terus-menerus mengigau menyebut-nyebut nama Ayah. Selama ini aku hanya mampu memberikan Ibu obat warung untuk menurunkan panasnya, disebabkan jarak Puskesmas yang cukup jauh dari desa tempat aku tinggal. Jangankan untuk berobat, untuk biaya transportasi kesana saja aku tidak mampu. Hingga akhirnya penyakit demam berdarah itu menang setelah hampir dua minggu menyiksa ibuku.

Mobil sedan melaju kencang menuju rumah Paman di kawasan Jakarta. Aku dijanjikan oleh pamanku untuk bekerja sembari bersekolah. Pamanku memiliki toko sembako yang besar. Di depan toko itu dibuka juga kios koran. Sesampainya di rumah Paman, aku diperkenalkan dengan ketiga anak Paman. Rupanya anak bungsu Paman berusia sama denganku. Handi namanya.

“Farhaaan...!” Paman memanggilku. Oh rupanya ia akan mengajariku bagaimana mengantarkan koran ke rumah pelanggan. Ia memberiku sepeda tua yang masih layak pakai. Aku juga disekolahkan ditempat yang sama dengan Handi. Hari itu juga Paman menyuruhku mengantar koran. Ah, padahal aku sudah tidak sabar melihat kawan baruku. Tapi apa boleh buat, kukayuh sepedaku melintasi areal perumahan. Koran-koran ini harus diantar tepat waktu. Yaitu pagi hari. Sehingga aku harus bangun pagi sekali agar tidak terlambat kesekolah. Senang rasanya memiliki rutinitas baru, dibanding harus menggarap sawah bersama Ibu. Ah Ibu, seandainya Ibu disini. Ibu pasti senang kan.

Hari pertama aku sekolah cukup menyenangkan, apalagi aku memiliki teman-teman yang tidak merendahkan aku. Berbeda saat aku bersekolah di kota asalku dulu. Aku melanjutkan kelas empat di sekolah dasar ini. Sebenarnya aku sudah pernah mengenyam bangku pendiidkan, namun itu tidak berlangsung lama ketika Ibu terpaksa harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami. Terpaksa aku putus sekolah. Selain karena jauhnya lokasi sekolah, tidak adanya alat transportasi yang memadai menuntutku untuk membantu ibu bekerja di sawah. Sekedar untuk mengasapi dapur kami.

Handi sepertinya kurang senang ketika guru-guru dan teman-teman memujiku karena aku termasuk murid yang pandai. Hal itu terbukti saat aku menghampiri ia dan teman-temannya, tiba-tiba saja ia pergi meninggalkan aku. Tidak sampai disitu saja, dirumah pun ia tampak mengacuhkan aku. Seolah-olah aku ini tidak pernah ada. Siapa yang tidak kesal? Namun aku tidak akan menyimpan dendam kepdanya. Karena bagaimanapun berkat ayahnya lah aku bisa berada disini. Hidup dengan layak dan bersekolah.

Nyanyian burung pipt dan panorama sawah yang hijau mengingatkanku pada desaku. Hei tunggu! Bukankah ini memang didesaku? Kufokuskan mataku, kutatap pemandangan sekitar, memastikan apa benar ini memang desaku. Mataku terus bergerak ketika mataku manangkap sosok yang tidak asing lagi. Ibu?? Benarkah itu Ibu? Wanita dengan balutan kain batik cokelat dengan kebaya putih tampak berdiri di kejauhan. Tubuhnya menghadapku. Namun pandangan entah kemana, mencari sesuatu. Namun sepertinya ia tidak melihatku. Saat aku coba memanggilnya, ia pergi begitu saja. Aku harus mengejar Ibu!

”Farhaaan..!” suara Paman membangunkanku. Aku bergegas mencuci muka. Masih teringat jelas wajah Ibu di mimpiku tadi. Tapi mimpi apa barusan? Batinku mengadu. Kulihat jam meja masih menunjukkan pukul 3 dini hari. “Farhaaan...!” dengan cepat aku berlari ke arah sumber suara. “Ada apa Paman?” Kuluhat Paman menata koran-koran, mengikatnya ke sepeda. “Antarkan koran-koran ini. Kita banyak pesanan. Ini alamatnya.” Paman menyodorkan kertas dengan alamat-alamat yang ditulis dengan tinta hitam.
“Hmm... Sepertinya  memang banyak pelanggan baru”. Kuraih kertas itu dan berpamitan dengan Paman.

Hari-hariku kulalui dengan keteguhan dan kesabaran. Seperti pagi ini, sepeda tua yang kukayuh sulit diajak kompromi. Tiba-tiba saja saat jalan menanjak, kurasakan seperti ada yang tidak beres dengan sepeda ini. “Duk..!!” Pedal yang kayuh terasa ringan, lalu sepedaku mundur dengan perlahan. “Ada apa ini..?” tanyaku dalam hati. Segera aku melompat turun dan memeriksa keadaan sepeda tua ini. Duh, rupanya rantai sepedaku terlepas. Hal itu terjadi berulang-ulang. Berulang kali kubenarkan, berulang kali pula rantai sepedaku terlepas. Tanganku hitam dibuatnya. Sementara, matahari kian meninggi. Maka kuputuskan untuk membawa sepedaku ke bengkel secepatnya.

Inilah angkutan kota ke limabelas yang berhenti di depanku, mengira aku ingin pergi ke suatu tempat. Betapa bodohnya aku menghitung angkutan-angkutan kota yang mondar-mandir itu. Sungguh sial hari ini, sepedaku rusak, setumpuk koran belum kuantar, biaya bengkel sepeda mahal yang belum kutebus, dan yang paling menyedihkan aku tidak bisa mengikuti pelajaran hari ini. Ditemani oleh pak satpam yang tersenyum-senyum seolah meledekku dari balik gerbang ini. Tidak berani membukakannya. Sekarang terbayang wajah paman yang berkicau ria.

Tak terasa, kini aku sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama. Profesi sebagai pengantar koran masih saja aku geluti. Tapi itu membawa kebahagiaan tersendiri untukku. Setiap pagi, sebelum koran-koran ini kuantarkan ke para pelanggan. Kusempatkan diriku untuk membaca semua koran yang ada, dari berbagai redaksi. Hal ini membuatku lebih memahami situasi yang terjadi di masyarakat. Dari koran-koran yang kubaca, membuatku termotivasi untuk menjadi seorang penulis. Saat ini, hanya mading sekolah yang menjadi penampung artikel-artikel milikku. Ingin rasanya aku mengirimkan artikelku ke redaksi koran. Namun terhalangi oleh rasa kurang percaya diriku. Maka niatan itu pun aku urungkan.

Sampai suatu ketika aku sedang mengantar koran dirumah salah satu pelanggan. Dari arah dalam, seorang laki-laki dengan tergesa keluar dari pagar dan menabrakku. Koran-koran sekaligus artikel majalah dindingku terlepas dari tanganku dan jatuh berserakan di tanah. “Maaf nak. Mari saya bantu.” Ujar lelaki itu. Kami pun memungut koran-koran yang berserakan. Tiba-tiba laki-laki itu mengambil lembaran-lembaran artiker mading milikku. “ini punyamu? Mau dikirim ke redaksi mana?” tanya lelaki itu. “Iya  ini  artikel untuk majalah dinding.” Jawabku seraya mengangguk. “Artikel sebagus ini seharusnya dimuat disebuah majalah atau koran nasional. Kalau kamu berminat, datanglah ke kantor bapak.” Ujarnya seraya memberikan kartu nama. Kemudian ia bergegas masuk ke mobilnya. Dadaku bergemuruh saat kubaca kartu nama itu, disana tertulis “Koran Lentera Pagi”. Salah satu koran yang sering kubaca. Disana juga tertera nama Fadhilah, yang menjabat sebagai Redaktur. Segera kuselesaikan tugas mengantar koran ini sebelum aku terlambat kesekolah.

Aku duduk di ruangan ber-AC yang dinginnya menusuk-nusuk kulitku. Ditambah lagi keringat dingin dari degup jantungku yang tidak beraturan tidak terkontrol. Perasaanku saat ini bercampur aduk antara senang, takut, gugup, dan entah apa lagi. Sangat sulit untuk didefinisikan. Tidak ada bahasa yang mampu mengungkapkan kegembiraanku saat ini. Bapak Fadhilah membaca artikel-artikel milikku. “ Artikel ini sangat bagus dan berbobot. Apalagi untuk anak seusia kamu. Saya ingin kamu bergabung dengan tim Koran Lentera Pagi. Karena kamu pelajar, kamu bekerja sepulang sekolah saja. Senin sampai Jumat.” Ujar bapak itu sambil tersenyum. Diantara kegembiraan ini, ada sesuatu yang mengganjal hatiku. “Maaf Pak karena sayakelas tiga SMP, saya harus fokus belajar. Bolehkah tiga hari saja dalam seminggu? Nah jika nanti ujian telah selesai, setiap hari saya akan berkerja disini. Bahkan kerja full-time pun tidak masalah bagi saya.” Bapak itu mengangguk sambil tersenyum. Kuucapkan terimakasih ketika meninggalkan ruangan itu. Aku seakan tak percaya dengan apa yang terjadi. Sepanjang jalan aku memikirkannya sambil tersenyum-senyum sendiri. Semoga saja ini adalah jalanku menuju kesuksesan sebagai penulis.

Hari demi hari kulalui dengan semangat tinggi, belajar dan bekerja. Tak terasa ujian sudah didepan mata. Kukumpulkan semua catatan untuk persiapan menghadapi ujian. Rasa penat dan lelah tak kuhiraukan. Alhamdulillah aku bisa melaluinya. Dan aku semakin bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menulis artikel di Koran Lentera Pagi. Semua bacaan tentang jurnalistik aku jadikan referensi untuk menambah wawasanku. Aku selalu berdoa agar cita-citaku sebagai jurnalis terkenal tercapai, serta menemukan ayahku. Aku yakin semua akan indah pada waktunya.

Seperti biasanya, pagi ini aku adalah orang kedua yang hadir setelah office boy. Kubuka layar monitorku, dan berselancar di dunia maya. Lalu kulihat dari Kementerian Pariwisata mengumumkan Lomba Penulisan Artikel bertemakan “Pesona Indonesia”. Tanpa berpikir panjang, aku membulatkan niat dan tekadku untuk mengikuti dan memenangkan lomba itu. Siang malam aku bekerja keras untuk menjadikan artikelku yang terbaik. Kucari referensi buku bacaan tentang pesona di negeri ini. Bahkan kudatangi tempat-tempat yang memiliki yang memiliki pesona tersendiri. Tak lupa, aku bertukar pikiran dengan Bapak Fadhilah yang merupakan seorang jurnalis senior.

Hari yang ditnggu-tunggu tiba. Tepat jam 12 malam aku menatap layar monitorku untuk menunggu pengumuman pemenang beasiswa untuk jenjang Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi ke luar negeri. Entah kenapa, website Kementrian Pariwisata lama sekali loading-nya. Kursor tampak berputar dan berputar membentuk sebuah lingkaran kecil berwarna biru muda. Membuat jantungku semakin berdegup kencang. “Ya Allah, apabila beasiswa ini memang milikku, mudahkanlah. Jika memang bukan, sabarkanlah dan gantikanlah dengan yang terbaik untukku.” Doaku dalam hati. Tiba-tiba lingkaran kecil berwarna biru muda itu berhenti berputar dan muncullah nama-nama pemenang beasiswa ke luar negeri. Seakan tak percaya, kuusap mataku. Memang betul itu namaku. Tapi benarkah itu memang aku? Kemudia kucocokkan dengan nomor peserta milikku. Dan Alhamdulillah, memang benar itu aku adanya. Muhammad Farhan.

Masih tak percaya, kakiku gemataran. Aku berada di stasiun televisi swasta untuk menghadiri wawancara pemenang Lomba Jurnalistik: Menulis Artikel oleh Kementerian Pariwisata. Satu persatu kami menceritakan latar belakang keluarga kami. Sambil menahan tanngis, kuceritakan kisahku. Seorang anak  piatu yang tak mengenal ayahnya. Dan kusebutkan keinginanku untuk bertemu ayahku Mohammad Fadhilah Sastroatmijoyo saat itu juga. Tumpahlah air mataku. Bahkan seisi studio terharu dan ikut menangis

Masih dengan mata sembab, kami keluar ruangan studio. Di pintu keluar studio, Bapak Fadhilah menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat selama ini. Ada raut wajah kerinduan, penyesalan, dan kegembiraan. Tiba-tiba direntangkanlah tangannya untuk memelukku. Erat sekali ia mendekapku. Air matanya berlinang membasahi bahuku. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi. “Anakku Farhan, maafkanlah kesalahan ayahmu ini. Aku ini adalah Mohammad Fadhilah Sastroatmijoyo.” Kami pun berpelukan sangat erat.

Ternyata, pernikahan Ayah dan Ibuku tak direstui oleh keluarga besar Ayah. Dengan segala cara memisahkan Ayah dan Ibuku. Hingga suatu ketika, Ayah dipaksa menikah dengan wanita pilihan orangtuanya. Ibu yang merasa sakit hati pergi meninggalkan Ayah, tanpa memberitahukan bahwa dirinya sedang mengandung. Ayah sudah berusaha mencari Ibu, namun tidak jua berjumpa.

Suara desing pesawat menyadarkanku bahwa kini aku telah tiba di Kansas City International Airport. Kulihat Ayah disebelahku tersenyum bahagia. Kugenggam erat tangannya dan kubisikkan, “Ayah, izinkan setelah lulus dari Kansas Senior High School, aku ingin melanjutkan studiku ke University of Missouri. Karena kutahu, banyak jurnalis hebat terlahir dari universitas itu.” Saat itu kurasakan pelukan Ayah yang semakin erat.

 

                                                                    TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Rakyat Jepang I dibuat tanggal 12 November 2015

Ulasan (Review) Novel: "I Love You Good Bye: Kau Kisah Terindah dalam Hidupku"